24
Jun
10

Bakti Anak Pada Orang Tua

Terkait dengan tulisan di sini, saya tertarik untuk membuat tulisan versi yang sebaliknya (yaitu anak pada orang tua). Tulisan ini diambil dari suatu sumber yang pernah saya tahu, saya baca, dan saya kenal. Judulnya adalah Sutra Bakti Anak Kepada Orang Tua. Beginilah isinya (saya ambil dari forum buddhis).
 
BAKTI  KEPADA ORANG  TUA

PENDAHULUAN

Di dunia ini sering dijumpai anak-anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya. Mereka sering menyalahkan orang tuanya karena mereka menganggap bahwa orang tuanya tidak memberikan cinta kasih dan perhatian yang penuh kepada mereka. Mereka selalu menuntut cinta kasih dan perhatian dari orang tuanya karena mereka menganggap bahwa cinta kasih dan perhatian itu wajib diberikan oleh orang tua kepada mereka.. Mereka tidak menyadari bahwa anak yang baik seyogyanya tidak menuntut cinta kasih dan perhatian, tetapi melakukan kewajibannya dengan baik.

Di dunia ini sering dijumpai anak-anak yang selalu menuntut agar orang tuanya dapat menjadi manusia yang sempurna dalam berbagai hal, seperti Ariya Puggala (makhluk suci). Anak-anak selalu menuntut agar orang tuanya berkelakuan baik dan bertutur kata ramah, tanpa pernah mengoreksi dirinya sendiri. Anak-anak selalu melihat sifat-sifat buruk yang dimilikinya oleh orang tuanya, tanpa pernah menyadari bahwa orang tuanya yang belum mencapai kesucian itu masih dapat berbuat salah. Anak-anak selalu mencela dan membenci orang tuanya jika orang tuanya berbuat salah. Tanpa pernah berusaha memberitahu kesalahan orang tuanya dengan cara yang bijaksana. Anak-anak tidak pernah menyadari bahwa orang tuanya dapat berwatak keras itu sesungguhnya karena pengalaman masa lalunya. Anak-anak tidak pernah menyadari bahwa sesungguhnya tidak mudah untuk merubah sifat dan watak orang tuanya yang keras itu. Anak-anak tidak pernah menyadari bahwa jika mereka tidak dapat merubah sifat dan watak orang tuanya yang keras itu, maka seharusnyalah mereka merubah pikiranya sendiri.

Di dunia ini sering dijumpai anak-anak yang tidak menghormati dan tidak patuh kepada orang tuanya. Mereka sering mendelik, menentang, dan membangkang orang tuanya. Mereka datang dan pergi dari rumah tanpa memberitahukan kepada orang tuanya. Mereka pergi meninggalkan rumah pagi-pagi sekali dan kembali sampai jauh malam. Mereka tidak mengacuhkan teguran-teguran dan peringatan-peringatan yang diberikan orang tuanya.

Di dunia ini sering dijumpai anak-anak yang sukar dididik dan diatur. Mereka keras kepala, malas, dan dungu. Mereka tidak mempunyai keinginan untuk belajar. Mereka berteman dengan orang-orang jahat dan segera meniru kebiasaan-kebiasaan jahat tersebut. Mereka menjadi nakal, suka berkelahi, gemar berjudi, tidak perduli lagi pada moral, terjerumus dalam kehidupan seks yang salah, masuk dalam kenikmatan narkotika, ganja, dan sejenisnya. Kemudian, mereka menarik saudara-saudaranya untuk ikut berbuat jahat, sehingga menambah kesedihan ornag tuanya.

Di dunia ini sering dijumpai anak-anak yang tidak memperdulikan kesejahteraan, kebahagiaan, dan kesehatam orangtuanya. Mereka tidak pernah menanyakan apakah orangtuanya tidak menderita panas atau dingin, lapar atau haus. Mereka tidak pernah menanyakan, apakah orangtuanya dapat tidur nyenyak dan beristirahat dengan tenang. Mereka tidak pernah menanyakan apakah orangtuanya tidak menderita sakit apapun. Mereka tidak pernah melayani orangtuanya dengan baik. Mereka tidak pernah memperhatikan kesusahan orangtuanya, Mereka tidak pernah mengetahui bahwa orangtuanya sering menangis, meratap, dan berkeluh kesah.

Di dunia ini sering dijumpai anak-anak yang melupakan kebaikan orang tuanya. Mereka tidak menyadari pengorbanan yang amat besar yang telah diberikan oleh orang tuanya kepada mereka. Mereka tidak tahu berterima kasih kepada orang tuanya. Mereka tidak berbakti kepada orang tuanya. Mereka tidak berusaha menghibur dan membahagiakan orang tuanya. Mereka tidak berusaha memenuhi keinginan-keinginan orang tuanya. Mereka baru menyadari semua itu ketika orang tuanya sudah meninggal dunia. Mereka baru menyesali semua sikap dan tingkah lakunya sebagai anak yang tidak berbakti. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Dalam kitab suci Dhammapada Bab V ayat 67, Sang Buddha bersabda,

“Bilamana suatu perbuatan setelah selesai dilakukan
membuat seseorang menyesal,
maka perbuatan itu tidak baik.
Orang itu akan menerima akibat perbuatannya
dengan ratap tangis dan
wajah yang bergelimang air mata.”

PENGORBANAN ORANG TUA

Tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan manusia didunia ini tidak terlepas dari jasa dan pengorbanan orang tuanya. Pengorbanan orang tua telah diberikan sejak ibu mengandung, melahirkan, sampai anak-anaknya dewasa dan menikah, bahkan sampai orang tua meninggal dunia. Orang tua selalu berkorban untuk anak-anaknya, paling tidak dengan pemikiran kehidupan anak-anaknya.

Pada saat ibu mengandung badannya seolah-olah menjadi seberat gunung. Selama mengandung, ibunya merasakan kesusahan setiap kali bangun tidur, seolah-olah mengangkat beban yang berat. Sepanjang hari, ibu terasa mengantuk dan lamban. Seperti orang sakit parah, ibu tidak mampu menelan makanan dan minumam dengan baik. Setiap hari ibu selalu gelisah memikirkan anaknya yang akan lahir, apakah cacat atau normal. Ibu juga khawatir dan takut akan kematian.

Setelah sepuluh bulan berlalu, ibu menderita berbagai macam kesakitan waktu melahirkan. Ibu mempertaruhkan kehidupannya sendiri pada saat melahirkan anaknya. Darah ibu mengalir laksana darah seekor domba yang mengucur ketika disembelih. Ibu sangat letih dalam badan dan pikiran. Namun, ketika mendengar bahwa anaknya terlahir normal dan sehat, ia dipenuhi dengan kegembiraan yang melimpah. Tetapi sesudah itu, kesedihan datang kembali, karena rasa sakit kembali menyerang tubuhnya untuk beberapa waktu lamanya.

Setelah anak lahir, ibu menggendongnya dan memberikan air susu yang merupakan darahnya sendiri. Ibu mengasuh anaknya dengan penuh kasih sayang. Ibu membersihkan kotoran anaknya tanpa merasa jijik. Ibu dan juga ayah menjaga anaknya siang dan malam. Mereka tidak pernah tidur nyenyak, karena selalu diganggu oleh tangis anaknya. Mereka tidak pernah memikirkan rasa laparnya, tetapi mereka selalu mengusahakan agar anaknya mendapat makanan dan minuman yang cukup.

Ibu dan ayah selalu mencintai dan berusaha membahagiakan anak-anaknya. Mereka selaku berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Dengan rela, mereka menderita untuk kepentingan anak-anaknya. Mereka, terutama ayah, berusaha bekerja keras mencari uang untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Mereka berusaha memberikan berbagai ilmu pengetahuan dan ketrampilan kepada anak-anaknya, sehingga kelak anak-anaknya dapat bekerja sendiri.

Orang tua memikirkan anak-anaknya. Orang tua ikut bersuka cita akan kebahagiaan anak-anaknya dan turut berduka akan kesulitan anak-anaknya. Bila anak bekerja berat, orang tuanya merasa sedih. Bila anak bepergian jauh, orang tua merasa khawatir akan keadaan anaknya. Dari pagi hingga malam, hati mereka selalu bersama anak-anaknya. Mereka selalu berdoa agar anak-anaknya selamat sejahtera, dan bahagia dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Orang tua tidak pernah merasa bosan untuk mendidik dan membimbing anak-anaknya. Mereka mengajarkan sila atau kelakuan bermoral kepada anak-anaknya, dengan harapan agar anak-anaknya dapat tumbuh menjadi manusia yang bermoral baik. Mereka berusaha menumbuhkan hiri (malu berbuat jahat) dan ottappa (takut akan akibat perbuatan jahat) dalam diri anak-anaknya. Mereka berusaha menanakan ajaran cinta kasih, kerelaan memberi, menghormati yang lebih tua, toleransi, sopan santun, mempunyai tanggung jawab, dan lain-lain.

Orang tua selalu berusaha melaksanakan kewajiban-kewajibannya, seperti yang tercantum dalam Sigalovada Sutta, dengan baik dan secara ikhlas. Terdapat lima kewajiban orang tua terhadap anak-anaknya, yaitu :

1. Mencegah anaknya berbuat jahat.
2. Menganjurkan anaknya berbuat baik
3. Melatih anaknya untuk dapat bekerja sendiri
4. Mempersiapkan pasangan yang sesuai bagi anaknya.
5. Memberikan warisan pada waktu yang tepat.

BAKTI ANAK KEPADA ORANG TUA

Jasa orang tua amat besar dan sulit terbalas oleh anak-anaknya selama hidupnya. Dalam Anguttara Nikaya Bab IV ayat 2 Sang Buddha memberikan perumpamaan sebagai berikut : ” Bila seorang anak menggendong ayahnya dipundak kiri dan ibunya di pundak kanan selama seratus tahun, maka anak tersebut belum cukup membalas jasa kebaikan yang mendalam dari orang tuanya.”

Anak-anak amat berhutang budi kepada orang tuanya. Tanpa kasih sayang dan pengorbanan orang tua, anak-anak tidak mungkin dapat hidup bahagia. Sang Buddha pernah mengatakan bahwa orang tua laksana “Brahma” bagi anak-anaknya. Oleh sebab itu, Anak-anak seyogyanya berbakti kepada orang tuanya. Sanak-anak seyogyanya merasa gembira dan bahagia bila berkumpul dengan orang tuanya. Anak-anak seyogyanya berlaku baik dan sopan terhadap orang tuanya.

Dalam Dhammapada bab XXIII ayat 332, Sang Buddha bersabda, “Berlaku baik terhadap ibu merupakan suatu kebahagiaan dalam dunia ini; berlaku baik terhadap ayah juga merupakan kebahagiaan. Berlaku baik terhadap pertapa merupakan suatu kebahagiaan dalam dunia ini, berlaku baik terhadap Para Ariya juga merupakan kebahagiaan.”

Anak-anak seyogyanya berusaha melakukan kewajibannya sebagai anak dengan sebaik-baiknya. Dalam Sigalovada Sutta diuraikan mengenai 5 macam kewajiban anak kepada orang tuanya, yaitu,

1. Merawat dan menunjang kehidupan orang tuanya terutama dihari tua mereka.
2. Membantu menyelesaikan urusan-urusan orang tuanya.
3. Menjaga nama baik dan kehormatan keluarganya.
4. Mempertahankan kekayaan keluarga, tidak menghambur-hamburkan harta orang tua dengan sia-sia.
5. Memberikan jasa-jasa kebahagiaan kepada orang tuanya yang telah meninggal dunia.

1. Merawat dan menunjang kehidupan orang tua.

Anak-anak seyogyanya merawat dan menunjang kehidupan orang tuanya yang telah tua dengan hati yang tulus ikhlas. Anak-anak seyogyanya menanyakan kesehatan orang tuanya. Jika sakit, anak-anak seyogyanya mengajak orang tuanya berobat ke dokter, membantu meminumkan obat, menghiburnya, dan sebagainya. Anak anak seyogyanya membawakan makanan dan minuman yang enak bagi orang tuanya. Anak-anak seyogyanya menyempatkan diri untuk menemani orang tuanya pergi ke Vihara atau jalan-jalan ke tempat rekreasi.

Anak-anak seyogyanya menyediakan tempat tinggal yang layak bagi orang tuanya yang ingin menginap. Anak-anaknya tidak patut menolak kedatangan orang tuanya yang ingin menginap. Anak-anak tidak patut saling melempar tanggung jawab diantara mereka dalam hal merawat dan menampung orang tuanya. Seharusnya anak berbahagia jika orang tuanya memilih tinggal dirumahnya, karena anak tersebut mempunyai kesempatan lebih banyak untuk membalas kebaikan orang tuanya. Anak yang berbakti tidak akan menempatkan orang tuanya di rumah jompo, walaupun dengan alasan orang tuanya lebih senang karena banyak teman.

2. Membantu menyelesaikan urusan-urusan orang tuanya.

Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti mempunyai barbagai masalah, termasuk orang tu kita. Anak-anak seyogyanya berusaha membebaskan orang tuanya dari berbagai masalah dan kekhawatiran. Anak-anak seyogyanya menanyakan masalah-masalah yang dihadapi oleh orang tuanya dengan lemah lembut. Kemudian, anak-anak berusaha menghibur orang tuanya dengan mengatakan bahwa semua masalah pasti dapat terpecahkan. Tidak ada problem yang tidak terselesaikan. Tidak ada kesulitan yang tidak ada akhirnya. Selanjutnya, anak-anak berusaha membantu memecahkan masalah-masalah orang tuanya tersebut.

3. Menjaga nama baik dan kehormatan keluarga.

Anak-anak seyogyanya bertutur kata sopan dan berkelakuan baik. Anak-anak seyogyanya menjalankan Pancasila Buddhis dalam kehidupan sehari-hari, yang berarti berusaha menghindari kejahatan. Anak-anak seyogyanya berusaha menambah kebaikan dengan berdana dan lain-lain. Anak-anak seyogyanya berusaha membersihkan pikirannya dari lobha (keserakahan), dosa ( kebencian), dan moha ( kebodohan). Anak-anak seyogyanya berusaha mengembangkan nialai-nilai spiritual dalam batinnya; melatih diri untuk menjadi baik; melatih kesabaran, toleransi, simpati, rendah hati, ramah, jujur, bijaksana, dan memiliki kesederhanaan. Dengan mempraktekkan ajaran-ajaran Sang Buddha dalan kehidupan sehari-hari anak, tersebut telah dapat menjaga nama baik dan kehormatan keluarga.

4. Mempertahankan kekayaan keluarga.

Hasil jerih payah orang tua selama hidup merupakan harta warisan yang perlu di jaga agar dapat membawa manfaat. Anak-anak harus memanfaatkan harta tersebut dangan sebaik-baiknya untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

5. Memberikan jasa-jasa kebahagiaan kepada orang tuanya yang telah meninggal dunia.

Setelah orang tua meninggal dunia, anak-anak patut melakukan pattidana atau berbuat jasa kebaikan yang dilimpahkan kepada orang tuanya yang telah meninggal dunia tersebut. Jasa-jasa kebaikan yang dapat dilakukan oleh anak itu antara lain:

1. Memanjatkan paritta-paritta suci.
2. Mencetak buku-buku Dhamma.
3. Berdana kepada vihara-vihara yang membutuhkan
4. Mempersembahkan jubah, Makanan, obat-obatan kepada Bhikkhu Sangha.
5. Melepas semua makhluk hidup, seperti burung, kura-kura, ikan.

Itulah lima kewajiban yang seyogyanya dilakukan oleh anak kepada orang tuanya. Anak-anak seyogyanya berbakti kepada orang tua ketika masih hidup, karena itu akan lebih besar manfaatnya jika dibandingkan setelah orang tua meninggal dunia. Anak-anak seyogyanya berusaha menyempatkan diri di antara kesibukan-kesibukannya untuk mengunjungi dan memperhatikan orang tuanya. Jika anak-anak membutuhkan cinta dan perhatian dari orang tuanya, maka sesungguhnya orang tua juga membutuhkan cinta dan perhatian dari anak-anaknya.

Dalam masyarakat kadang-kadang terjadi bahwa anak-anak yang sudah menikah mendapat banyak rintangan ketika ingin berbakti kepada orang tuanya. Anak laki-laki yang sudah menikah mungkin diancam oleh isterinya sedemikian rupa, sehingga ia takut dan mengikuti segala keinginan isterinya untuk tidak membantu dan memperhatikan orang tuanya.

Hal ini dapat pula terjadi terhadap anak-anak perempuan yang sudah menikah. Ia dilarang oleh suaminya untuk berhubungan dengan orang tuanya. Ia dilarang untuk membantu orang tuanya yang kadang-kadang memang sedang dalam kesulitan. Ia tidak didukung oleh suaminya ketika ingin berbakti kepada ornag tuanya, bahkan ia dikritik dan dicela. Akhirnya, ia akan menjadi ragu dan bimbang, dan kemudian berhenti berbakti kepada orang tuanya. Sebab, ia tidak memiliki keberanian untuk merealisasikan niat baiknya itu. Ia menyadari semua tindakannya yang keliru setelah orang tuanya meninggal dunia. Ia menyesal, tetapi terlambat. Yang ia dapat lakukan kemudian adalah pelimpahan jasa atau pattidana.

Sesungguhnya, umat Buddha yang baik tidak gentar terhadap kritikan dan celaan, apalagi dalam hal berbuat baik, seperti berbakti kepada orang tua. Sang Buddha pernah mengatakan, “Janganlah berhenti berbuat baik hanya karena Anda dikritik. Jika Anda memiliki keberanian untuk melaksanakan perbuatan baik, walaupun dikritik, maka sesungguhnya Andalah orang besar dan dapat berhasil dimana pun.”

Sesungguhnya, anak-anak yang baik akan tetap berbakti kepada orang tuanya walaupun orang tuanya berwatak keras dan berkelakuan buruk. Anak-anak yang baik akan menyadari kebenaran hukum karma, bahwa ia bisa mempunyai orang tua yang berwatak keras dan berkelakuan buruk itu juga disebabkan oleh karma lalunya yang kurang baik. Anak-anak yang baik tidak akan mencela dan membenci orang tuanya yang berbuat salah, karena ia meyadari bahwa orang tuanya yang belum mencapai kesucian itu masih bisa berbuat salah. Anak-anak yang baik tidak akan menganiaya atau membunuh orang tuanya yang mencaci makinya, karena ia memiliki hiri dan ottappa. Anak-anak yang baik akan dapat menerima kenyataan bahwa orang tuanya memiliki kekurangan-kekurangan. Anak-anak yang baik akan memberikan maaf kepada orang tuanya yang melakukan kesalahan-kesalahan. Selanjutnya, anak-anak yang baik akan berusaha melihat sifat-sifat baik yang dimiliki oleh orang tuanya, dan berusaha menyayangi orang tuanya dengan sepenuh hati, serta membimbing orang tuanya ke jalan yang benar dengan cara yang bijaksana.

Dalam Angguttara Nikaya Bab IV ayat 2, Sang Buddha juga memberikan petunjuk mengenai cara terbaik untuk membalas budi dan jasa kebaikan orang tuanya, yaitu sebagai berikut :

” Apabila anak dapat mendorong orang tuanya yang belum mempunyai keyakinan terhadap Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha), sehingga mempunyai keyakinan kepada Tiratana; apabila anak dapat membuka mata hati orang tua untuk hidup sesuai dengan Dhamma, membimbing mereka untuk memupuk kamma baik, berdana, melaksanakan sila, mengorong mereka mengembangkan kebijaksanaan, maka anak tersebut dapat membalas budi dan jasa-jasa kebaikan orang tuanya.”

Sesungguhnya, dengan berbuat demikian, selain anak tersebut telah membalas jasa-jasa orang tuanya, ia juga telah menumpuk karma-karma baik bagi dirinya sendiri.

Sumber :
BAKTI ANAK KEPADA ORANG TUA ( Kumpulan Tulisan)
Oleh : Mettadewi W., S.H., Ag.
Diterbitkan oleh Yayasan Pancaran Dharma, Jakarta
Cetakan pertama, Juli 1999

Semoga bermanfaat,

Cheers.

06
Apr
10

10.000 Jam

Orang bilang kalo mau jago di suatu bidang harus melewati 10000 jam terbang. Karena itu, ingin iseng-iseng ngitungin dah berapa lama gw koding (kira-kira… Gw itung 1 semester 26 minggu, 1 tahun 52 minggu). Ok, gw mulai:
1. Tahun pertama semester satu dapat Pemrograman Web+Konsep teknologi. Kira2 belajar koding sekitar 4 jam x 26 = 104 jam.
2. Tahun pertama semester dua dapat Pemrograman LISP+Pascal: Kira2 koding 6 jam x 26 = 156 jam
3. Tahun Kedua semester satu, dapat IMK+Struktur Data+Orkom. Kira2 Koding 7 jam x 26 = 182 jam.
4. Tahun Kedua Semester dua, dapat OOP+Strategi Algoritmik+Orkom 2. Kira2 Koding 10 jam x 26 = 260 jam
5. Tahun ketiga Semester 1, dapat AI+Sistem Informasi+OS+STBI+Basis data+Kerjaan aneh2. Kira2 Koding 15 jam x 26 = 390 jam
6. Tahun ketiga semester 2, dapat Tekkom+PPL+Jarkom+Grafika+SBD+Pemrograman Web+Kerjaan aneh2. Kira2 Koding 18 jam x 26 = 468 jam.
7. Tahun Keempat Semester 1, dapat kerjaan aneh2. Kira2 Koding 20 jam x 26 = 520 jam
8. Tahun Keempat Semester 2, dapat kerjaan aneh2. Kira2 Koding 36 jam x 26 = 936 jam
9. Tahun Kelima Semester 1. Kira2 Koding 48 jam x 26 = 1248 jam
10. Tahun Kelima. Semester 2. Kira2 koding 70 jam x 12 (Karena baru sampai Maret) = 840 jam

Total = 5104 jam…..
Perjalanan masih panjang………………… Butuh sekitar 5000 jam terbang lagi…………….

04
Nov
09

Isi email yang menyenangkan……

Sekitar tanggal 21 oktober, sempet mengirim paper TA versi inggris ke dosen pembimbing..
Setelah diperbaiki oleh dosen pembimbing, sang dosen pun mengirim ke konferensi ICACSIS 2009 (International Conference on Advanced Computer Science and Information System) di UI,Indonesia.

Tanggal 30 Oktober 2009, dapat email:

Terus hasil reviewnya adalah sbb:


Comment: Emang ga well organized juga setelah dilihat-lihat…



Comment: Deg-deg an. huhu…. merasa penelitian kemaren blom bahkan jauh dari sempurna

Akhir kata,
Walopun bukan murni karya sendiri tp sangat senang sih karena keterima, tp jadi khawatir juga karena disuruh presentasi tanggal 7-8 desember 2009. Baru pertama kali dapat reward ini…

Thank you god for this rare chance. I will do my best…

Fiuh….. Semangat Win (/^.^)/

12
Sep
09

eS Te Be…………

Tanggal 11 September jadi hari yang memorial…
Bukan karena peringatan pemboman, tp karena di tanggal itu saya akhirnya bisa sidang S1(akhirnya ^ ^ setelah menantikan sekian lama).
Hasil sidang: banyak revisi dokumen. Satu halaman berita acara pun tak cukup.

Cara pembimbingku menyampaikan hasil:
“Sayang sekali win… anda belum bisa dinyatakan lulus………..”
“Sebelum melakukan semua revisi di dokumen. Dokumen paling telat diserahkan tanggal 9 oktober. Tp kl mau lulus oktober paling telat tanggal 2 oktober.”

Siap, bu.

07
Aug
09

Jadi Angkatan 2005 dan 2009

Well, kemarin akhirnya saya mendaftarkan diri ke itb sebagai angkatan 2009. Bukan s1 melainkan s2. Pendaftaran kemaren jauh lebih cepat daripada sewaktu daftar s1 dulu. Dulu pendaftaran s1 makan waktu sekitar 6 jam (antrinya lama bo >,<).
Yang ini cuma 2 jam. Ada dua pengalaman gak enaknya:
1. Gak bawa materai. Pada surat panggilan, hanya diminta 1 buah materai dan ditempel. Kenyataannya tidak, harusnya bawa dua buah materai. Pengumuman itu ternyata lewat situs. (cih…. lupa liat situs karena kupikir surat panggilannya sudah benar). Ya sudah, karena sudah tiba di sabuga dan males ke toko lagi, kubeli materai dari pedagang asongan di sekitar sabuga. Dia tawarkan materainya sebesar 9000 rupiah. Karena kuanggap mahal, kutawar sebesar 8000 rupiah. Sebenarnya 8000 rupiah sudah mahal, tapi tak apa-apalah. Itung-itung ongkos angkot untuk mencari materai.
2. Well, yang ini lebih gak enak. Tiba-tiba ditodong 300 ribu untuk pembelian kelengkapan (Jas almamater, id card). Sebel abis, di suratnya tak ada tulisan bawa duit 300 ribu. Di situs juga tak ada. Akhirnya ya tak bawa duit apapun. Lagian kalo bawa duit, mikir2 lagi dah kl cuma untuk perlengkapan itb saja….
Jas almamater dah ada berhubung s1 di sini. Saya akan melihat kondisi dan situasi untuk mentransfer 300 ribu ke bni itb.
3. Saya mendaftar dan membayar untuk 13 sks, tp ternyata hanya dibolehkan maksimum 12 sks. Dengan demikian, saya terpaksa menghapus dua sks. Itu berarti saya harus mengurus lagi deh ke annex buat mengambil duit dari itb atau melakukan prs menjadi 13 sks.

Satu lagi cerita, s2 ku ini akan batal jika saya tak lulus oktober. Pendaftaran wisuda tanggal 8 oktober. Biasanya dua minggu sebelum pendaftaran itu harus sudah sidang. Tp dua minggu sebelum pendaftaran wisuda itu terganggu oleh libur lebaran (14 s.d. 25 september). Well, artinya awal september harus sudah sidang. Harga mati.

Sebelum sidang, harus dilakukan pra sidang terlebih dahulu. Pra sidang maksimum tanggal 21 agustus mengingat dosen pembimbingku harus prajab tanggal 23 agustus-6september. Argh…. dokumen masih 0% dan program masih < 50%…..
Noo…..

Jadi deh, saya mempertaruhkan duit 9.1 juta rupiah ke itb. Kalo gw lulus oktober, artinya duit gw aman. Kl gw gak lulus, duit itu bisa hilang….

Semangat \(O_o)/

08
Jul
09

Why we should study when we’re in high school

Credits goes to Taiyou to Umi No Kyoshitsu. A great Japanese drama indeed.

Here is one of the point of this drama:

Once upon a time, there was a s17-years old student  who was asking to his teacher:”Why we should study? Why are we studying for the test? I’ve started to notice that our studying is useless. We can use internet and computer nowadays to know something. I don’t say that I’m dissatisfied. However, I just don’t understand it”.

The teacher wisely answered this:
“Yes, indeed. Our studying is completely useless in the future. But, it’s not okay if we do not study.”

“There is a folk tale in South America which is passed down for generations. One day, the forest caught fire. All of the animals had ran away, except hummingbird. The hummingbird went back and forth, carrying a drop of water in his beak. Then he dropped it over the fire. The other animals laughed and asked why he did it. And he answered that he would do everything that he could do. Of course, his effort is  useless. Only 1% of fire that was put out. Then, is it all right to do nothing? No, it is not. Even if only 1% of your effort rewarded, for those who make the effort that 1% is 100%.

“When I was in your age, I had similar doubts, why I had to study for test? But, now I have the answer. To me, studying is like treasure hunt.”

“We do anything to get the treasure. We cross sea, climb the mountain, walk on many different paths, and so on. There are also many trashes on your hand, too. But if you stop your journey because you think that journey is useless, then you will not find the treasure. Even, only one step more from where the treasure is buried.”

“Imagine this, after 99% useless work, you find the treasure. All of useless work is not completely useless.”

And, the student asked again:
“Have you found the treasure, sir?”

The teacher replied:
“I have found the treasure. That’s why I teach you to study.”


Well, this blog is just copy-paste from the story I have watched. But, because it has a very good point. I will post it.

One more : Kitagawa Keiko and Tanimura Mitsuki is really cute. ^ ^

05
Jul
09

Point bagus Indonesia

Dalam hal dukung-mendukung rekannya yang berjuang di tingkat dunia, Indonesia sangat bagus. Hal ini bisa diliat dari voting yang melibatkan orang di seluruh dunia untuk mendukung tim dari negaranya masing-masing pada sebuah event mikocok. dan mulai dari kemaren peringkat voting tim indonesia ada di nomor 1.

Yang nomor 1 itu dari Indonesia. Dan kl mau tau jumlah yang voting berapa untuk yang nomor 1:

Proses voting seharusnya hanya bisa dilakukan 1 kali per hari. Tp kenyataannya tidak demikian jadi voting bisa dilakukan berkali-kali.

Sekedar Info tambahan untuk pergerakan nilai voting tim indonesia. Credit goes to kaskus.
1. 4 Juli Pukul 5.00
Rangking sementara:
1. CZK 37480
2. MEX 24981
3. INA 21403

2. 4 Juli 2009 pukul 10.00
Ranking sementara:
1. INA – 373633
2. CZK – 38243
3. MEX – 28540
4. JAP – 21847
5. TUR – 1792

3. 5 Juli 2009 pukul 00:58
Ranking sementara:
1. INA – 957860
2. BUL – 11882
3. CZK  – 38259
4. JAP – 33603
5. MEX – 21697

4. 5 Juli 2009 pukul 12:47
Ranking
1. INA – 3208601
2. BUL – 1111478
3. JAP – 66675
4. TUR – 42652
5. MEX – 42006